Menikahlah Karena Siap

 

Hari itu, sehari sebelum hari pernikahan, Cesar datang ke rumah Pohon Tua membawa peralatan tempur paling utama: kamera dan tripot. Dia agak terabaikan karena situasi sedang hiruk-pikuk persiapan acara malam deba dan malam pacar. Beberapa saat kemudian kami duduk di ruang makan membicarakan tentang konsep video opening resepsi pernikahan. Video ini rencananya akan ditayangkan di awal sebelum penari beraksi mengantar pengantin ke pelaminan. Saya diminta menyusun narasi singkat tentang pernikahan ini. Kertas dan alat tulis sudah siap di atas meja.

Hahaha Kata Mereka Ini Pengantin Terkocak Sepanjang Sejarah.

Narasi itu harus lengkap dengan kata kunci: kesabaran, usia yang tidak muda lagi (iya, sudah tua saya ini, haha), dan pernikahan. Seperti kata si penggagas video, Oston, "Di video itu kau harus jelaskan, Teh, kenapa sih seorang Tuteh kemudian mau menikah dengan Buya?" Hmmm. Apa ya ... 😅 Mau menikah tapi dikasih homework sama mereka. 

Singkat, padat, cukup jelas. Lahirlah narasi yang mereka minta.

Hidup membawa saya sejauh ini.
Masa muda, berkarya, dan berkarir.
Bagaimana dengan cinta dan pernikahan?
Bagi saya, setiap manusia mengembara di muka bumi dengan mengemban tugas masing-masing.
Tugas saya masih banyak.
Tapi, jika kemudian saya bertemu dia yang berani melamar, maka waktu Tuhan memang sudah tepat.
Menikah bukan karena terpaksa.
Menikah bukan karena tren.
Menikah bukan karena nafsu.
Menikah juga bukan karena usia.
Menikahlah, karena siap.

Menikahlah karena siap ...

Karena kesalahan teknis, video yang kalian bisa lihat di awal artikel batal ditayangkan. Tapi kemudian saya unggah ke Facebook.





Ternyata kalimat terakhir itu betul-betul seperti penempatannya. Pamungkas

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, siap tidak siap, ketika sudah merencanakan pernikahan, ya memang harus siap. Siap batin itu yang paling utama. Banyak yang bercerita pada saya, bahwa hari-hari mendekati hari pernikahan adalah hari paling galau. Calon pengantin dilanda kegelisahan akut tentang pilihannya untuk menikah. Saya memang dilanda kegelisahan akut, gelisah kuatir gaun pengantin tidak muat gara-gara rajin makan 😄 Tidak ada pikiran tentang kekeliruan atau kesalahan. Bismillah, dimulai dengan niat yang baik, saya percaya Allah SWT akan selalu memberkati.

Kegalauan datang justru setelah sebulan menikah, karena Buya harus kembali ke Mbay untuk bekerja, meninggalkan saya di Ende 😂 LDR lagi ha ha ha.  

Anyhoo, tidak pernah ada maksud untuk menggurui siapapun. Demikianlah selalu semua artikel yang pernah saya tulis. Hanya ingin berbagi cerita bahwa saya menikah karena memang benar-benar sudah siap, terutama mental (batin). Saya siap hidup saya yang sebelumnya terlalu nyaman kemudian berubah karena setiap pagi dan sore punya kewajiban membikin kopi untuk Buya, meskipun kadang-kadang dibantu Mama Len atau Mely 😛 Setiap hari memikirkan makan bersama Buya, karena sebelumnya makan sendiri pada waktu yang sesuka hati. Setiap hari tidak lagi memikirkan diri sendiri. Adaptasi yang perlu dilewati.

Semoga bermanfaat.


Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak