Akurasi Pers vs Kecepatan Media Sosial

 

Perspektif Digital: Tantangan Kecepatan Informasi Media Sosial Vs Akurasi Pers Serta Peluang Kolaborasi Narasi Digital. Itu adalah tema yang menjadi jatah saya berbicara dalam kegiatan talkshow Senin kemarin. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Ende (PAWE) dalam rangka Hari Pers Nasional ke-80 sekaligus ulang tahun PAWE yang pertama. Selamat ya, PAWE. Oh ya, dalam etimologi bahasa Ende/Lio, pawe sendiri bermakna baik. Diambil dari slogan Kabupaten Ende yaitu Ende Lio Sare Pawe = Ende Lio cantik/bagus dan baik. 

Mengulang yang saya bicarakan pada kesempatan baik tersebut, saya selalu menganalogikan pers dan media sosial sebagai makanan. Pers adalah makanan yang punya izin dari BPOM, sertifikat halal, dan tentunya komposisi yang tertera pada kemasan. Sedangkan media sosial adalah makanan yang terlihat sangat menarik (kadang sangat berminyak) tapi tanpa izin dari BPOM, tanpa komposisi yang jelas, tanpa kemasan yang higienis, dan lain sebagainya. Sebagai manusia yang setiap hari harus makan, tentunya kita semua akan memilih makanan yang izinnya jelas, komposisinya jelas, dan cocok dengan kondisi tubuh.

Foto bersama narasumber/pembicara lainnya.


Zaman sebelum ada internet, kita hanya berpatok pada media besar seperti media elektronik (televisi dan radio) dan media cetak (koran, majalah, dan lain sebagainya). Media lokal tentu paling ditunggu, selain RRI Ende sebagai radio yang berbasis di Ende untuk jangkauan yang luas hingga luar Pulau Flores, ada pula media cetaknya seperti Flores Pos dan Pos Kupang. Menunggu media cetak lokal yang menyajikan semua peristiwa lokal tentu lama karena butuh proses sunting terlebih dahulu oleh penyunting, proses penataan layout/tampilan, sampai proses cetak dan distribusi.

Situasi berubah dengan hadirnya internet karena masyarakat mengenal istilah citizen journalism atau jurnalis warga atau sekarang dikenal dengan nama netizen. Tidak perlu menunggu satu minggu sampai satu bulan sebagaimana jadwal terbitnya media cetak skala lokal karena para jurnalis warga akan dengan sangat mudah menyajikan narasi-narasi tentang peristiwa yang terjadi tanpa kaidah yang benar. Tidak hanya media sosial seperti Friendster atau Multiply, blog menjadi salah satu media pribadi terbaik untuk melakukannya. Segalanya mendadak menjadi lebih cepat tersaji.

Bersama UKM Jurnalistik Uniflor. Mantap, Keren, Gacor!

Bersama Armando dan Mami Gedinji, dua penyiar RRI yang kece


Maka pers dan media sosial, menurut saya, adalah dikotomi.

Mau menjadi yang tahu lebih cepat (media sosial).

Atau, mau menjadi tahu lebih benar (pers).

Namun seiring perkembangan internet, dikotomi ini dapat dipersempit bisa jadi lebih cepat, bisa jadi lebih benar, karena banyak jurnalis/wartawan yang kemudian beralih menggunakan internet. Prosesnya boleh dikatakan tidak terlalu lama dan bersaing dengan jurnalis warga. Seperti kata Kakak Ocha (host), bahwa terjadi balapan antara jurnalis dan jurnalis warga.

Lalu, apakah kita tidak boleh jadi jurnalis warga? Tentu tetap boleh dongggg. Tetapi harus ingat kaidahnya ya. Seperti yang digaungkan oleh ICT Watch Indonesia, saring before sharing, think before posting. Ini merupakan langkah dalam literasi digital. Kita sebagai jurnalis warga yang menerima informasi, mengolah, dan ingin menyajikannya kembali, setidaknya harus paham tentang literasi digital agar orang dapat membaca sejauh mana kualitas berpikir kita. Apakah informasi itu benar? Saring dulu. Apakah informasi itu bermanfaat? Saring lagi. Jika oke, silahkan diposting. Jika tidak, silahkan diabaikan.

Bagi saya pribadi, pers harus terus ada dan menyala di tengah masyarakat sebagai penyampai suara masyarakat dan suara pemerintah. Tanpa pers kita terbelenggu oleh opini yang subyektif dan bisa jadi menyesatkan. 

Dalam hal kolaborasi, sudah bukan cerita baru lagi jika kebisingan di dunia maya, di media sosial, kemudian diangkat oleh media besar. Media mempertemukan orang yang viral itu dengan narasumber lain yang mumpuni untuk membahas peristiwa (yang viral tersebut). Inilah salah satu wujud kolaborasinya. Tapi ada pula wujud kolaborasi lainnya yaitu kita sebagai jurnalis warga, dapat membagikan tautan berita dari media terpercaya, lalu menambahkan opini kita sendiri yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan.

Bersama Perwakilan dari AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Ende).


Ingat, jurnalis dan jurnalis warga (pers dan media sosial) saat ini sama-sama pembalap di jalan raya, tapi jadilah pembalap yang baik agar selamat sampai tujuan.

Bukan begitu? 

Yess, kira-kira harus begitu.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak