Resiliensi dan Dukungan Lingkungan

 
This picture made by Gemini AI.

Disclaimer: Bukannya saya tidak berempati dengan peristiwa yang terjadi, namun ada banyak hal yang harus kita soroti. Sesuatu yang sering saya katakan pada anak-anak bahwa beruntunglah kalian masih bisa makan nasi, ubi, jagung, karena di tempat lain ada yang harus menahan lapar sejadinya tapi mereka bertahan bahkan menjadi tokoh yang kita kenal saat ini.

Kegemparan terjadi di tengah masyarakat ketika seorang bocah berusia 10 tahun memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Usia 10 tahun adalah usia aktifnya seorang bocah di sekolah dan lingkungan. YBR menggantung dirinya di kebun milik sang nenek, saat si nenek justru sedang membantu tetangga memecah kemiri. Untuk apa memecah kemiri? Tentu untuk menopang perekonomian keluarga, agar YBR pun dapat bertahan hidup. 

Agar lebih jelasnya, saya coba jelaskan kronologi singkatnya.

YBR adalah anak ke-5 dari 5 bersaudara. Saat ibunya mengandung, ayahnya pergi ke Kalimantan dan belum pulang sampai saat ini. Artinya YBR lahir tanpa kehadiran figur seorang ayah. Sejak usia sekitar 1 tahun lebih, YBR tinggal bersama neneknya di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada. Tempat mereka tinggal adalah sebuah pondok bambu berukuran 2x3 meter. Lalu, ibunya memutuskan untuk pindah dari Kabupaten Nagekeo ke Kabupaten Ngada. Di sinilah saya memastikan bahwa ibunya pindah belakangan setelah lama YBR tinggal bersama neneknya. Kenapa? Karena ada permasalahan pencairan dana PIP yang tidak bisa dilakukan karena KTP ibu masih domisili Kabupaten Nagekeo, maka ibu harus mengurus Surat Keterangan Domisili terlebih dahulu (sambil membikin KTP baru).

YBR bersekolah di SD di Kecamatan Jerebu'u. Meskipun berstatus sekolah negeri, sekolah memungut biaya sebesar Rp 1.220.000 per tahun yang dicicil. Harapan YBR sempat melambung saat namanya terdaftar sebagai penerima dana Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp 450 ribu di kelas IV. Namun, dana tersebut tertahan di bank akibat kendala administrasi: KTP ibunya masih beralamat di Nagekeo, sehingga ia diminta mengurus surat keterangan domisili terlebih dahulu. Sebelum tragedi terjadi, YBR berkali-kali menanyakan kapan uang tersebut cair, namun sang ibu hanya bisa menjawab bahwa prosesnya belum selesai karena urusan identitas tersebut.

Kamis, 29 Januari 2026, kejadian memilukan ini terungkap saat seorang warga melintas di kebun milik nenek korban untuk mengikat ternak. Awalnya, warga tersebut bermaksud mendatangi pondok sang nenek guna mengingatkan agar menjaga hewan ternaknya. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat YBR sudah tak bernyawa, tergantung di sebuah pohon cengkih di area perkebunan tersebut. 

Ditemukan pula selembar surat tulisan tangan YBR dan di bagian akhir ada sketsa dasar anak yang sedang menangis.

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Di balik angka statistik kemiskinan, ada wajah-wajah nyata yang tengah berjuang, dan terkadang, beban itu menjadi terlalu berat untuk dipikul oleh bahu yang masih sangat muda.

😭

Di tengah banjirnya komentar di media sosial, ada kecenderungan untuk langsung menyeret masalah ini ke ranah politik praktis. Padahal, jika kita melihat lebih jernih, tragedi ini adalah manifestasi dari masalah sistemik yang sangat kompleks, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pergantian kebijakan atau retorika politik semata. Tragedi yang menimpa YBR membuat kita terhenyak. Rasanya sulit dibayangkan di zaman sekarang masih ada anak yang merasa dunianya runtuh hanya karena tidak mampu membeli buku tulis dan harus bertahan hidup di situasi yang sulit.

Tapi jangan lupa, sejarah dunia juga mencatat kisah-kisah serupa, bahkan mungkin lebih kelam,  berakhir dengan cara yang berbeda. Kisah-kisah ini menunjukkan betapa kompleksnya daya tahan manusia dan betapa tipisnya batas antara keputusasaan dan kebangkitan. Jika kita menoleh ke belakang, banyak tokoh besar dunia yang memulai hidupnya dari titik yang jauh lebih rendah daripada sekadar kekurangan buku.

William Kamkwamba (The Boy Who Harnessed the Wind). Di Malawi, William harus putus sekolah karena kelaparan hebat yang melanda negaranya. Ia bahkan tidak makan berhari-hari. Namun, di tengah kemiskinan ekstrem itu, ia pergi ke perpustakaan desa, belajar secara autodidak dari buku-buku bekas, dan berhasil membangun kincir angin dari sampah untuk menyelamatkan desanya.

Abraham Lincoln. Lahir di gubuk kayu, kehilangan ibu di usia muda, dan hidup dalam kemiskinan yang membuatnya sulit mengakses pendidikan formal. Namun, dia membaca buku apa pun yang bisa dia pinjam sambil bekerja kasar, hingga akhirnya menjadi salah satu presiden terbesar Amerika Serikat.

Oprah Winfrey. Mengalami kemiskinan luar biasa di masa kecilnya, bahkan sering memakai baju dari karung kentang dan mengalami berbagai trauma hebat. Namun, dia berhasil mendobrak batas tersebut dan menjadi salah satu wanita paling berpengaruh di dunia.

Mengapa Hasilnya Berbeda?

Melihat perbandingan ini, kita menyadari bahwa kemiskinan bukanlah variabel tunggal. Ada faktor lain yang bermain di sana yaitu resiliensi (daya juang) dan dukungan lingkungan.

Tragedi di Ngada bukan berarti YBR adalah anak yang lemah, melainkan sebuah pengingat bahwa tidak semua anak memiliki pegangan yang cukup kuat saat badai datang. Tokoh-tokoh dunia di atas berhasil karena mereka menemukan satu celah cahaya, entah itu sebuah buku pinjaman, guru yang peduli, atau ambisi yang membara, yang membuat mereka tetap bertahan. Masalah ini memang kompleks. Kita tidak bisa hanya menyalahkan keadaan ekonomi atau suhu politik. Yang bisa kita lakukan adalah menyadari bahwa di sekitar kita mungkin ada William Kamkwamba atau Abraham Lincoln kecil yang sedang berjuang melawan rasa lapar dan keputusasaan.

Tugas kita bukan untuk membanding-bandingkan nasib mereka secara dingin, tapi untuk memastikan bahwa ketika seorang anak merasa tidak sanggup lagi memikul beban hidupnya, ada tangan yang terulur untuk membantunya bangkit. Mari kita jadikan kisah YBR di Ngada sebagai dorongan untuk lebih peka. Jangan biarkan kemiskinan membunuh impian sebelum dia sempat mekar. Karena siapa tahu, anak yang kita bantu beli buku tulisnya hari ini, adalah tokoh yang akan mengubah dunia di masa depan.

Saya pribadi hanya berharap, semoga tidak ada lagi YBR lainnya di dunia ini, terkhusus di wilayah Nusa Tenggara Timur tercinta.



Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak