Di era digital seperti sekarang ini, hubungan antara persatuan bangsa, generasi muda, dan hoaks, bisa menjadi kompas ke arah mana negara ini akan dibawa. Negara tidak selamanya akan dikayuh oleh mereka-mereka yang saat ini sedang berkuasa atau mereka-mereka yang saat ini terlihat sangat memerhatikan rakyat tetapi sebenarnya sedang berperan ganda menjadi koruptor.
Generasi muda harus bisa melawan hoaks, karena mereka lah digital natives. Mereka, menurut saya, hidup di dalam 'internet', suatu teknologi yang diciptakan oleh Generasi Baby Boomers dan dikembangkan oleh Generasi Milenial. Apa jadinya jika generasi muda kita mudah percaya hoaks, mudah menyebarkan hoaks, bahkan bisa membikin hoaks? Itu sih menyakitkan karena terlihat sebagai kegagalan sistem.
Hoaks lebih mudah tersebar di era digital karena saat ini karena karena teknologi memfasilitasi penyebaran informasi secara kilat, sementara psikologi manusia cenderung mendahulukan emosi daripada logika. Ancaman hoaks di era digital sangat besar karena bekerja dengan cara memecah belah opini publik (atau polarisasi). Hoaks sering kali mengeksploitasi isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) untuk menciptakan rasa saling tidak percaya di masyarakat. Jika dibiarkan, hal ini dapat memicu konflik horizontal, terjadinya disintegrasi bangsa, dan runtuhnya kepercayaan pada institusi resmi atau institusi negara.
Ada hal yang menyakitkan untuk kita dengar tapi ini fakta. Menurut Yosep Adi Prasetyo, Mantan Ketua Dewan Pers Indonesia, Hoaks biasanya diciptakan oleh orang pintar tapi jahat, dan disebarluaskan oleh orang baik tapi bodoh. Alasan langsung disebarkan tanpa cek ricek kebenarannnya ya karena ada orang baik tapi bodoh lainnya yang selama ini dipercaya, lalu mengira bermanfaat, mengira benar, dan ingin dianggap jadi yang paling pertama tahu.
Hoaks cepat menyebar di media sosial, karena tentunya berkaitan dengan dunia digital dengan akses informasi yang begitu cepat bahkan saking cepatnya informasi ini saringan kita bisa jebol. Tapi ada dua faktor pertama yang bisa kita lihat. Pertama, faktor psikologis di mana manusia memiliki kecenderungan confirmation bias, yaitu keinginan untuk mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan mereka, terlepas dari benar atau tidaknya informasi tersebut. Kedua, algoritma media sosial di mana platform digital didesain untuk memicu emosi (marah atau takut). Konten yang provokatif mendapatkan engagement lebih tinggi, sehingga algoritma akan menyebarkannya lebih luas dan cepat.
Yang paling benar, menurut saya, masyarakat harus paha literasi baik literasi secara umum maupun literasi digital. Sebagai blogger dan social media enthusiast, saya adalah orang yang anti main stream. Saya tidak mudah percaya pada apa pun dan harus melakukan literasi digital (verifikasi dan validasi, untuk memastikan data yang disajikan (baik oleh saya ataupun oleh orang lain) akurat. Selain itu selalu ada edukasi tipis-tipis melalui sisipan pesan literasi atau cara mengecek fakta dalam suatu konten. Hal ini bisa saya lakukan melalui kegiatan-kegiatan seminar terkait dunia internet.
Generasi muda adalah digital natives yang paling aktif di internet. Mereka bisa menjadi contoh bagi generasi yang lebih tua (seperti orang tua atau kakek-nenek) dalam menyaring informasi maupun generasi di bawah mereka. Jadi di sini, teknologi internet atau digital ditemukan oleh Generasi Baby Boomers, dikembangkan oleh Generasi Milenial, lalu ada generasi Z yang hidup di dalam internet itu sendiri. Generasi muda ini pawangnya internet. Generasi muda memiliki kreativitas untuk memproduksi konten edukatif yang menarik untuk mengimbangi narasi hoaks.
Jika kalian adalah generasi muda, kami yang Gen Z(adul) ini menitipkan pesan. Jadilah generasi yang cakap digital, generasi yang bisa menjadi hoax buster, generasi yang bisa menjaga persatuan bangsa ini karena kita adalah Bhineka Tunggal Ika. Jangan sampai karena hoaks, kita hancur berantakan.
Cheers.
