Penulis Inspiratif Itu Telah Pergi

 

Sebelum bekerja di Universitas Flores (Uniflor) sebagai karyawati Lembaga Publikasi (sekarang bernama UPT Publikasi dan Humas), pada bulan Februari 2011, saya sudah sering mendengar nama beliau yang karib disapa Oma Mia. Jujur, tidak pernah terlintas di benak, suatu saat nanti saya akan membantu beliau menyunting tulisan-tulisan yang kemudian dibukukan. Secara kemasyarakatan, Oma Mia adalah isteri dari Opa Ema, pendiri Uniflor yang juga menjabat Bupati Ende dua periode yaitu 1973 - 1983. Dulu belum disebut Bupati tapi Kepala Daerah Tingkat II. Sebagai Sang Visioner, nama beliau diabadikan dalam ajang ngehits Ema Gadi Djou Memorial Cup dan auditorium di Kampus I Uniflor yaitu Auditorium H. J. Gadi Djou.

Ini artikel tentang buku-buku Oma Mia: Oma Mia Gadi Djou, Penulis Inspiratif Berjiwa Muda.

Awal mula saya mulai membantu Oma Mia untuk buku-buku beliau adalah pada tahun 2015-an ketika beliau hendak menerbitkan sebuah buku mini yang berisi tentang sejarah singkat Opa Ema serta perjalanan pendirian Uniflor. Buku ini dibagikan pada saat Misa memperingati 1 (satu) tahun wafatnya Opa Ema. Waktu itu saya sangat kuatir tidak sanggup memenuhi permintaan Oma Mia, kuatir saya kurang paham dengan keinginannya. Tetapi semuanya berjalan lancar. Alhamdulillah.

Hari ini, penulis inspiratif berjiwa muda itu telah pergi. Ada sedih yang menyeruak hingga air mata menetes. Saya bukan siapa-siapanya Oma Mia. Hanya seorang manusia yang beruntung diterima bekerja di Uniflor di mana Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores yang menaungi Uniflor adalah putera Oma Mia: Bapak Lori Gadi Djou. Tapi bagi saya, Oma Mia adalah seorang oma, mama, yang selalu bersemangat berbagi cerita dan menulis, dengan selera humor yang berada pada another level. Kisah hidupnya sangat menginspirasi. Termasuk bagaimana Oma Mia berbagi cemilan dengan seorang TKW saat berada di pesawat dalam perjalanan pulang dari luar negeri.

Aaah, Oma. Saya paling ingat tentang kutu busuk penghuni bangku kayu di Bioskop Flores pada awal-awal dibuka. Sampai saya tidak tahan, lantas mengirim pesan kepadanya tentang tawa yang tak henti-hentinya membayangkan penonton film harus berantem sama kutu busuk sampai banting-banting kursi kayu itu. Kisah seperti ini, mana bisa saya tahu, kalau bukan karena Oma? Karena, ketika saya diajak ke Bioskop Flores sama orangtua, kursinya sudah diganti dengan kursi sice/tali plastik, tanpa gangguan kutu busuk. Saya pernah menulisnya di artikel berbeda [2018].

Kisah si Bangsat. Bangsat atau kutu busuk memang pengganggu. Betapa lucunya saat Oma Mia bercerita melihat penonton kelas ekonomi di Bioskop Flores menonton filem sambil membanting kursi kayu gara-gara digigit kutu busuk; sambil membanting kursi sambil ikut menyanyi lagu Melayu dari filem, ha ha ha. Oma Mia tidak hanya bercerita bioskop pada jaman dulu, tapi juga memberikan saran agar kutu busuk tidak mampir ke rumah kita.

Beberapa kali Oma Mia memanggil saya ke rumah di Woloweku, berdua saja kami duduk mengobrol, di mana saya lebih suka mendengar Oma bercerita tentang banyak hal, tentang pemikiran-pemikirannya, tentang pendapatnya akan pembangunan di Kabupaten Ende, sambil ngemil buah-buahan apa lagi pepaya. Pernah saya harus terdiam sangat lama menunggu Oma Mia menangis mengenang Opa Ema saat sakit (kemudian meninggal dunia) di Yogyakarta. 

Dua tahun terakhir tak ada lagi Taqwim atau Firmen yang datang ke rumah untuk mengantar buku bertulis tangan Oma Mia. Mungkin jemari Oma Mia sudah tak sanggup merangkai kata demi kata membangun cerita. Tulisan terakhir memang sudah sangat sulit dibaca, tapi itu yang justru bikin saya menangis, Oma punya semangat menulis tidak pernah padam. Tidak pernah pula Thika atau Indra pergi ke rumah Woloweku untuk mengantar hasil cetak tulisan yang sudah diketik dan disunting itu. 

Oma, selamat jalan.

Terima kasih atas segalanya. Saya sangat berterima kasih semua pemberian Oma Mia, yang bahkan kadang Oma mampir di depan rumah saat sedang jalan-jalan sore. Saya malu Oma Mia mampir ke rumah Pohon Tua. Tapi yang paling utama adalah ...

Oma telah mengajarkan pada saya, pada semua orang, bahwa Oma juga akan selalu dikenang melalui tulisan-tulisan Oma di berbagai buku itu.

Oma eee ... selamat jalan.


Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak