30 Days No Sugar, Low Carbo, and Less Oil

 


Awalnya memang sulit. Saya terbiasa minum kopi susu dua mug sehari, teh kotak less sugar kadang satu kadang dua kotak, jajan sejenis gorengan, jajan manis (cake dan sejenisnya), kerupuk dan keripik, sampai kacang-kacangan. Pola makan saya brutal. Terutama di rumah daging ikan sulit ditemukan karena yang distok daging ayam, daging merah slice, sosis, pentol, dan kawan-kawan. 

Menghentikan dengan mendadak kopi susu dan semua minuman kemasan, menghentikan dengan mendadak gula, dan mengurangi karbo membikin tubuh kaget dan berontak. Ada keinginan untuk berhenti dan kembali pada pola makan sebelumnya, yang enak, yang asyik, yang tak kenal waktu, yang ternyata mengacaukan tubuh sendiri. 

Saya sendiri yakin, ah paling lima hari sudah malas diet-diet begini. Jajan manaaaaa jajan! Tapi di hari keempat, kaki saya yang membengkak mulai turun perlahan meskipun mata masih kabur (huruf WA sampai yang paling besar), urusan buang air kecil mulai berkurang lajunya, tubuh terasa lebih enteng, tepi jari kelingking (kaki) yang sedikit menghitam karena lecet tiba-tiba kering dan terkelupas. Loh, kok jadi bagus? Saya sudah bisa pakai sepatu yang sebelumnya cuma nampang di dalam dos. Saya melanjutkan diet yang saya namakan dietbetes (dietnya diabetisi) tanpa obat dulu, karena obatnya bikin saya mual dan muntah. 

Selain konsultasi berlanjut dengan dokter Lili Londa (I ❤️ you, dokter), saya juga menonton ratusan video dokter (bukan video asal abal) tentang diabetes dan apa saja asupannya. Ada 3 J, Jenis, Jumlah, dan Jam. Buah apa saja yang boleh dan tidak. Kadar glikemik dan beban glikemik. Hitungan Karbo harian dan makanan lain pengganti nasi. Banyaklah yang saya tahu.

30 hari yang lalu saya pikir hidup saya kiamat karena semua kesenangan dihentikan. 30 hari kemudian saya tahu hidup saya bisa jadi lebih berkualitas. Asupan harian terpenuhi karena 3J tadi (dan diolah sendiri). Mata kabur sudah pergi dan semua huruf di telepon genggam kembali normal. Sepatu-sepatu dipakai tanpa keluhan. Dan, terpenting angka-angka diabetes dan kolesterol di area normal. Tinggal asam uratnya yang masih bingung 😁 

Terima kasih dokter Lili yang penuh kesabaran menghadapi saya. Ternyata saya tidak bandel hahaha. Terima kasih Mami Yovita Vivianty Indriadewi Atmadjaja yang memotivasi saya untuk terus posting #MenuDietBetes a la saya yang itu-itu saja. Malah gara-gara itu, saya terima catering #MenuDietBetes untuk satu orang. Satu saja, jangan tambah lagi 🤭

Bismillah untuk hari-hari selanjutnya!


#LifeIsGood

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak