Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol?


Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol? Suatu kali ada seseorang, entah siapa saya lupa, yang bilang ke saya: sudah, stop diet, kamu itu jelek banget kalau kurus! Omongan itu semacam kalimat ampuh yang terlontar dari bibir pengacara kondang. A-ha! Mari makan, mari ngemil, karena kalau kurus saya jelek *digampar dinosaurus*. Tapi bukan karena omongan itu kemudian tubuh saya menjadi sulit mengempes. Mengempes atau mengempis? Dasarnya tulang saya yang gemuk. Haha. Yang jelas, porsi makan saya normal seperti rakyat jelata pada umumnya, porsinya sedikit tapi tambah terus *muka serius*. Hei kamuuuu yang mau pedekate jangan mundur doooonk. Seriusnya, yang jelas porsi normal atau sedikit lebih banyak, tubuh saya begini-begini saja.

Baca Juga: 5 Perkara yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Ketika suatu kali saya memasang wajah super serius, ada yang menyeletuk: tidak cocok! Haha. Mau tidak mau saya tertawa mendengarnya. Nampaknya wajah saya ini dari keluaran pabrik memang tidak digariskan untuk menjadi terlalu serius. Sama seperti otak saya yang sering sekali keluar dari jalur. Maksudnya sering banget otak saya ini mendadak mengalami jalur sibuk dimana orang lain sedang ngomong serius ke saya tetapi otak saya fokus memikirkan hal lainnya yang bisa jadi penting bisa jadi sangat remeh. Jadi, tidak ada salahnya kalau sedang mengobrol dengan saya kalian bertanya: lu dengerin nggak, Teh!? Sumpah, saya tidak akan tersinggung kalau kalian bertanya begitu, karena saya sendiri juga tidak kuasa menahan otak saya memasuki jalur sibuk.

Sama juga, untuk peristiwa-peristiwa penting lainnya, seringkali saya berulah konyol sampai pernah dikeplak sama Kakak. Tapi sebenarnya konyol ini bukan disengaja. Lhaaaa bemana lagi ... saat sedang Yassin-an sekeluarga besar mendadak saya tertidur begitu saja. Duhai, entah apa yang merasuki saya saat itu. Kepala saya dikeplak *ngakak guling-guling*. Atau, saat sedang santai bersama teman-teman, saya menyumpal kedua lobang hidung dengan tisu sampai yang melihat terkejut. Untungnya mereka sudah tahu perihal kekonyolan ini sehingga tidak sampai lah mereka mengeplak kepala saya.

Ternyata, urusan berpikir dan bersikap konyol ini merembet ke ranah nyaris-asmara. Pasti kalian bakal bilang: kok bisa? Ya, bisa. Jangan diikuti jejak konyol ini, karena kalau iman kalian tidak kuat, resiko silahkan tanggung sendiri.

Pada dasarnya saya suka berkhayal. Menulis fiksi memang butuh khayalan tingkat tinggi. Konyolnya, kalau sedang berkhayal saya tidak mengenal tempat. Kakak ipar saya, Mbak Wati, cuma bisa mengelus dada waktu melihat saya menyapu rumah sambil mulut komat-kamit. Dikiranya saya sedang membaca mantera, ternyata saya sedang bercerita. Coba kalian bayangkan, sambil menyapu rumah saja otak saya menyusun cerita asmara (fiksi)! Paling parah, saya menyusun fiksi saat sedang kendarai sepeda motor, terutama ke luar kota. Makanya, kalau hendak ke luar kota mengendarai sepeda motor sejak dari rumah sudah saya mulai Ayat Qursi agar keterusan dan otak saya tidak liar ke arah jalur sibuk.

Balik lagi ke urusan berpikir dan bersikap konyol yang merembet ke ranah nyaris-asmara. Otak saya itu sering banget ngelantur ke mana-mana. Waktu ada yang pedekate, baru pedekate nih, otak saya sudah menampilkan seseorang (lelaki dong) datang ke rumah secara mendadak, bawa batako buat lemparin kepala saya terus bilang pengen ngelamar. Tidak berhenti di situ! Cerita fiksi itu mulai dirangkai satu per satu. Mulai dari pedekate, pacaran, proses lamaran, menikah, punya anak, cek-cok, sampai manajemen emosi saya dan dia. Ya ampuuuun! Itu konyol sekali kan, kawan? Belum berhenti sampai di situ! Saat si dia berhenti pedekate alias menghilang pun otak saya masih melanjutkan cerita fiksi itu. Berulang-ulang.

Konyol to the max.

Nampaknya berpikir dan bersikap konyol sulit sekali terurai dari pribadi saya. Entah mengapa, otak saya begitu saja bermain liar, berkhayal, mengarang cerita fiksi. Untungnya, saya tidak terbawa pada kerja otak yang seperti itu. Maksudnya, saya tidak sampai berhalusinasi apalagi mengalami delusi. Hahaha. Bisa dibayangkan kalau itu terjadi? Tingkat konyolnya di atas pencapaian maksimum standar hidup manusia *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Apakah kalian juga mengalaminya? Kalau iya, artinya saya tidak sendiri. Tapi berpikir dan bersikap konyol ini ada manfaat positifnya. Misalnya, saat ini saya harus lebih intens merawat Mamatua karena kedua matanya kehilangan penglihatan. Pola berpikir dan sikap yang konyol ternyata sangat membantu menghibur beliau yang sangat kami sayangi itu. Misalnya selalu bertanya tentang biodata-nya beliau sendiri, mengajaknya bernyanyi, mencoba menggodanya dengan kalimat-kalimat konyol, dan lain sebagainya. Bagi saya, orang sakit tidak butuh dikasihani. Orang sakit butuh dihibur, terutama dengan hal-hal konyol-positif, agar semangat mereka tetap membara untuk menjalani hidup. Setidaknya, meskipun saat ini Mamatua praktis harus diurus a to z, tapi otak dan bibirnya tidak berhenti bekerja. Mamatua masih bisa bercerita tentang masa lalu, masih bisa meraba-raba kami yang duduk di dekatnya, masih bisa bercerita, berkomentar ini itu, bahkan menggoda Mamasia dan Mamalen yang senantiasa membantu kami mengurusinya.

Hati yang gembira adalah obat ~ H. J. Gadi Djou.

Life is good!

Kembali ke judul; bisakah saya berhenti berpikir dan bersikap konyol untuk semua lini kehidupan saya? Belum bisa. Kalau saya berhenti berpikir dan bersikap konyol ... bukan saya namanya. Haha.

Semoga bermanfaat!

#KamisLegit



Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak