Bikin Konten Jangan Sampai Ngoyo dan Salah Kaprah


Apa itu ngoyo? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, ngoyo berarti memaksakan diri melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan kemampuan, kondisi, dan waktu (https://kbbi.web.id/ngoyo). Sedangkah salah kaprah berarti kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan sebagai kesalahan (https://kbbi.web.id/salah). Ngoyo dan salah kaprah, dua istilah yang dapat disimpulkan dari konten-konten di dunia maya. Apa yang sebenarnya dicari dari konten-konten seperti itu? Tentu saja FYP dan (diharapkan) uang. FYP adalah singkatan dari For Your Page yang mana media sosial (dengan AI-nya) menampilkan video-video yang dianggap akan disukai oleh para pengguna media sosial tersebut berdasarkan preferensi konten dan aktivitas yang disukai. Sederhananya, konten (khususnya video) jadi viral.

Ayo Atasi Krisis Moral Dengan Lebih Mengenal Diri Sendiri.

Semakin ke sini, semakin banyak konten video ngaco, bikin pikiran kita berpikir tentang pikiran. Apa-apa dilakukan demi viral, viral, dan viral. Ya tentu, percuma bikin konten jika tidak ada yang menonton. Tapi apa memang harus seperti itu?

Meskipun sudah lewat keramaiannya, tapi perkara yang terjadi di Pulau Lembata masih saja membekas di benak saya. Bagaimana mungkin tuduhan itu dilayangkan pada seorang Bapak pemilik kios (di daerah lain kios ini disebut warung). Padahal, jelas-jelas tidak mungkin si Bapak berenang demi mengejar perahu motor yang telah melaju menjauhi dermaga demi mengembalikan HP si orang kaya. Saya yakin kalian sudah menonton video tersebut, dan tentu emosi, karena terkesan inginnya si Bapak memang betul mencuri (menyembunyikan) HP yang kelupaan di kios itu. Ini kan aneh. Menguji kejujuran seseorang dengan mudahnya dan menyiarkan konten tanpa seizin yang bersangkutan, apa lagi konten tersebut terkesan negatif bagi salah satu pihak. 

Klarifikasi pun datang. Salam, memperkenalkan diri, (kadang-kadang) menceritakan kronologi, lalu meminta maaf.

Muncul lagi konten video yang bikin stasiun TV Indosiar harus turun tangan. Memang benar, Indosiar terkenal dengan sinetron-sinetron azab dengan judul mecengangkan. Tapi itu bukan berarti konten kreator boleh membuat konten dengan judul kurang ajar (seperti: Jasa Keliling Membesarkan Nganu) dengan disertai logo Indosiar. Itu akan sangat menurunkan kredibilitas korporat. Karena pihak Indosiar sendiri tidak pernah menayangkan sinetron dengan judul ngaco semacam itu.

Klarifikasi pun datang. Salam, memperkenalkan diri, (kadang-kadang) menceritakan kronologi, lalu meminta maaf.

Masih banyak perkara-perkara sejenis. Bikin geleng-geleng kepala.

Tidak ada seorang pun yang bisa melarang orang lain menjadi konten kreator, atau membikin konten video, dengan cara mereka masing-masing. Tapi tolonglah jangan sampai terkesan ngoyo dan salah kaprah, yang pada akhirnya akan membikin netizen bilang: cari uang kok segitunya. 

Padahal, banyak konten kreator lain yang bisa dijadikan contoh macam Nessie Judge, Detektif Aldo, atau Yuvi Phan. Konten kreator dengan konten berbau horor juga bertebaran macam RJL 5, Prasodjo Muhammad, dan Lentera Malam. Konten kreator tanpa harus bikin studio juga ada macam para ibu rumah tangga yang menampilkan aktivitas mereka sehari-hari mengurus rumah, seperti Isayang dan Pita. Bisa juga mencontoh orang-orang terkenal dengan talkshow mereka macam Deddy Corbuzier, Helmy Yahya, dan Prof. Rhenald Kasali.

Mari Yuk Pahami WhistleBlower dan Justice Collaborator.

Saya adalah penikmati konten, terutama konten-konten di Youtube. Dari sini saya ingin sekali bisa menikmati konten-konten yang menarik tanpa harus terkesan ngoyo dan salah kaprah. Jujur, saya suka social experiment tapi kalau kebangetan juga jadi males. Semoga kita banyak belajar dari kejadian-kejadian (luar biasa) yang terjadi di negeri ini.


Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak