Atasi Krisis Moral Dengan Lebih Mengenal Diri Sendiri

 


Steven Padl dan Alyssa bertemu di internet pada tahun 1995. Setelah bertemu, mereka pun jatuh cinta, namun hubungan mereka tidak direstui orangtua Alyssa. Saat itu usia Steven Padl 20, dan Alyssa 15. Gara-gara itu, Alyssa kabur dari rumah, lalu pulang dalam kondisi hamil. Dengan berat hati orangtua Alyssa pun menerima pasangan kasmaran tersebut. Tahun 1998, Alyssa melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Dennise/Denise. Tapi ternyata Steven Padl bukanlah ayah yang baik karena sering menyiksa Denise. Suatu kali saat Denise menangis, Steven Padl memasukkannya ke dalam cooler/pendingin selama bebrapa detik, baru mengeluarkan Denise.

Ayah jahat.

Sudah dari dulu, Bukan Hanya Agama, Negara Juga Melarang Perzinahan.

Karena usia mereka masih muda, kondisi perekonomian yang kacau, maka Alyssa pun menyerahkan Denise untuk diadopsi. Denise diadopsi oleh pasangan dengan kehidupan normal dan baik-baik saja. Tony Fusco dan istrinya, Kelly, mengadopsi Denise dan mengganti nama Denise menjadi Katie Fusco. Sementara itu, karena Steven Padl ini suka mengancam Alyssa akan membunuh dirinya sendiri jika Alyssa meninggalkannya, maka mereka meneruskan hubungan mereka di mana lahir lagi dua anak dari hubungan tersebut.

Alyssa cukup sengsara, menurut saya, karena Steven Padl masih menyiksa kedua anak mereka, belum lagi si suami yang menganggur dan Alyssa lah yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga ini.

Singkat cerita, Katie Fusco telah tumbuh menjadi remaja yang cantik, cerdas, aktif, dan sangat berbakat di dunia menggambar dan/atau membikin sketsa. Setelah berusia 18 tahun pada Januari 2016, Katie, telah diberitahu bahwa dia diadopsi, menemukan orang tua kandungnya dan mengirim pesan kepada mereka. Keluarga Pladl dengan senang hati bersatu kembali dengannya. Alih-alih kuliah pada Agustus 2016, Katie pindah bersama keluarga Pladl di Henrico County, Virginia. Dia memutuskan untuk tidak kuliah.

Apa yang terjadi di rumah keluarga Padl?

Steven Padl ternyata jatuh cinta pada Katie Fusco, anak kandungnya sendiri. Dan ternyata Katie pun demikian. Mereka kemudian melangsungkan perkawinan di mana pada foto perkawinan tersebut saya melihat, dihadiri pula oleh orangtua adopsi Katie dan ibu si Steven Padl. Saat Alyssa mengetahui hal ini dia memutuskan untuk melaporkan hubungan ayah dan anak tersebut. Katie pun melahirkan seorang bayi. Tapi karena hubungan Steven dan Katie dilarang oleh negara, maka mereka dipisahkan. Steven pun kemudian menculik dan membunuh anak hasil perkawinannya dengan Katie Fusco, lalu menembaki Katie dan ayah adopsinya saat mengendarai mobil, lantas dia membunuh dirinya sendiri.

Incest terjadi di seluruh muka bumi. Tapi di Indonesia, yang sedang sangat viral saat ini adalah hubungan antara ibu mertua dan menantu yang berinisial R, yang saat ini berbuntut pada urusan hukum alias tuntut-menuntut. Lalu ada pula seorang polisi dari Kalimantan Utara yang berselingkuh dan kawin dengan adik iparnya sendiri. Kakek mencabuli cucu sendiri? Juga ada!

Dunia ini sehat. Tapi di dunia yang sehat ini, ada pula orang-orang sakit yang mengalami krisis moral sehingga berita-berita mengerikan ini bertebaran dan dapat dengan mudah ditemui di internet. Era keterbukaan sungguh membikin segala sesuatunya menjadi sangat terbuka ... seperti ibu mertua yang membuka baju saat berada di dalam kamar bersama menantunya.

Anyhoo ... apakah krisis moral ini dapat diatasi?

Diatasi berarti adanya upaya preventif sejak awal sebelum terjadinya petaka. Kalau bisa sih harus ada upaya pre-emtif. Jika petaka sudah terlanjur terjadi, maka oknum-oknum dengan krisis moral tersebut dapat direhabilitasi. 

Lantas, bagaimana caranya mengatasi krisis moral?

Menurut saya, salah satu cara adalah dengan mengenali diri sendiri.

Siapakah saya? Saya bernama Anu. Saya lahir dari orangtua yang seperti apa? Jika orangtua saya baik, maka saya pun harus dapat mencontohi mereka, jika orangtua saya jahat, maka saya harus berubah. Bagaimana dengan keluarga besar saya? Apakah keluarga besar saya sangat mendukung perbuatan-perbuatan positif yang saya lakukan? Jika keluarga besar saya ternyata racun, maka saya harus mampu mendetoks diri dari racun tersebut dan mencari lingkungan pertemanan yang sehat dan berfaedah alias dapat memberi nilai tambah. Jika saya sudah mempunyai pacar, apakah pacar saya itu pantas menjadi suami/isteri? Jika saya mempunyai suami/isteri, apakah kehidupan rumah tangga sudah seperti yang diinginkan?

Selalu memperhitungkan untung dan ruginya. Apa untung dan ruginya jika saya melakukan suatu perbuatan? Apa dampaknya pada diri saya sendiri? Apakah saya kelak masih bisa menikmati hidup baik dan bahagia jika melakukan ini? Bagaimana pendapat masyarakat? Oke, kalian dapat melewatkan soal pendapat masyarakat, karena terkadang, pendapat masyarakat pun tidak selamanya konstruktif. 

Lebih penting lagi, apakah yang saya lakukan ini diridhoi oleh Tuhan? Benarkah ini yang diajarkan olehNya? 

True, Saya Kasihan, Tapi Saya Juga Sepakat Dengan Guru Gembul.

Lantas bagaimana memulai langkah mengenali diri sendiri? Pertama, tentu harus ada bantuan dari orang-orang terdekat, terutama orang tua. Setelah si anak sudah mampu berpikir lebih logis, maka dia akan mengenali dirinya sendiri. Tapi bagaimana jika masih ada yang melakukan perbuatan-perbuatan akibat krisis moral tersebut? Artinya mereka 'sakit' dan harus di'temani', karena mereka selalu akan berpandangan bahwa perbuatannya bukanlah kekeliruan apa lagi kesalahan.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak