Teknologi Akuaponik di Kebun Percontohan Universitas Flores

 


Teknologi Akuaponik di Kebun Percontohan Universitas Flores. Kalian pasti sudah sering mendengar tentang hidroponik. Bagaimana akuaponik? Ya ampun, Tuteh, akuaponik bukan sesuatu yang baru di masyarakat. Kalau poliponik? Hahaha. Zaman kapan itu poliponik. Oke, jadi kita akan langsung meluncur pada kronologi. Pada tanggal 12 Oktober 2020 Universitas Flores (Uniflor) kedatangan tamu dari Kedutaan Besar Polandia di Indonesia. Kami memanggilnya Mr. Michael atau Pak Michael. Asli, ganteng beud! Apa urusannya? Jadi, bakal ada kerja sama tentang akuaponik. Pihak Uniflor mengajak Mr. Michael pergi ke Kebun Percontohan Uniflor yang terletak di daerah Lokoboko, Ndona. Lokasi yang sangat strategis/bagus untuk membangun akuaponik. Menurut saya. Hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Ende.


Gara-gara kesengsem sama Mr. Michael, hari itu saya mengalami kecelakaan tunggal, terjungkal dari sepeda motor yang saya kendarai sendiri gara-gara pasir dan mengelamun. Konyol.


Baca Juga: Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor


Lalu, apa itu Kebun Percontohan Uniflor?


Mungkin belum semua orang tahu bahwa Uniflor mempunyai area kebun yang sangat luas, saya tidak tahu berapa hektar, yang disebut Kebun Percontohan Uniflor. Kebun ini dikelola oleh Fakultas Pertanian Uniflor. Ada bapak-bapak yang bertugas menjaga ekosistemnya, para dosen dan mahasiswa juga secara berkala (terjadwal) mengunjungi kebun ini untuk mengelolanya dan terutama untuk mata kuliah praktek. Kebun Percontohan Uniflor juga menghasilkan antara lain sayur dan buah. Ada beberapa bangunan seperti gudang dan saung di dataran yang agak tinggi. Saya suka duduk-duduk di saung ini karena nyamaaaaan. Banget. Uniflor pernah menggelar acara besar di Kebun Percontohan Uniflor yaitu Pelantikan Rektor dan jajaran Wakil Rektor pada awal 2020 yang lalu. Bukan, bukan di bagian kebunnya tetapi di bukit/dataran tinggi yang belum dikelola menjadi kebun, dengan pemandangan spektakuler ke arah Kota Ende.



Dan teknologi akuaponik itu saya temukan di Kebun Percontohan Uniflor pada tanggal 26 November 2020 saat meliput kegiatan kunjungan murid Raudhatul Athfal Al Fatih. Raudhatul Athfal itu setingkat taman kanak-kanak. Mengenal lebih dekat alam. Itu yang ditawarkan oleh pengelola Kebun Percontohan Uniflor. Sejak kecil para bocah ini diajak untuk melihat lebih dekat berbagai macam tanaman, melihat tentang akuaponik, hingga menanam benih tanaman pada bedeng yang disediakan.



Akuaponik. It's amazing.


Menurut Wikipedia:

Akuaponik adalah sistem pertanian berkelanjutan yang mengkombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Dalam akuakultur yang normal, ekskresi dari hewan yang dipelihara akan terakumulasi di air dan meningkatkan toksisitas air jika tidak dibuang. Dalam akuaponik, ekskresi hewan diberikan kepada tanaman agar dipecah menjadi nitrat dan nitrit melalui proses alami, dan dimanfaatkan oleh tanaman sebagai nutrisi. Air kemudian bersirkulasi kembali ke sistem akuakultur. Karena sistem hidroponik dan akuakultur sangat beragam bentuknya maka sistem akuaponik pun menjadi sangat beragam dalam hal ukuran, kerumitan, tipe makhluk hidup yang ditumbuhkan, dan sebagainya.





Sederhananya akuaponik itu adalah memelihara dua jenis makhluk hidup sekaligus yaitu flora (biasanya sayuran) dan fauna (ikan). Jadi tanamannya tidak ditanam di tanah? Tidak. Umumnya yang sering saya lihat itu tanamannya berupa kangkung yang akarnya menjuntai ke air di bawahnya, dan di dalam air itu dipeliharalah ikan-ikan. Sama seperti hidroponik, akuaponik dapat dilakukan oleh kalian yang tidak mempunyai lahan/tanah tetapi tetap ingin berkebun. Bedanya, akuaponik ibarat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, karena air yang digunakan sebagai media tanam itu dipeliharalah ikan-ikan terutama ikan yang dapat dikonsumsi.






Setelah berkeliling kebun, melihat akuaponik, serta menanam benih, murid-murid RA Al Fatih, beristirahat sambil menikmati jagung rebus (hasil dari Kebun Percontohan Uniflor juga). 



Di luar dari konteks teknologi akuaponik, secara umum saya melihat kegiatan ini sebagai kegiatan yang sangat bermanfaat. Tidak saja bagi murid-murid RA Al Fatih, tetapi juga sangat bermanfaat bagi dosen dan pengelola kebun. Murid-murid RA Al Fatih tentu menemukan suasana lain dari keseharian mereka di kelas dan/atau saat belajar dari rumah. Ya itu tadi, lebih dekat dengan alam. Sedangkan bagi dosen, kegiatan ini merupakan salah satu wujud dari pengabdian kepada masyarakat. Karena pada kesempatan tersebut para dosen seperti Pak Alan dan Ibu Tensi juga dibantu mahasiswa menjelaskan pada murid-murid RA Al Fatih tentang tanaman hingga teknologi akuaponik.


Baca Juga: Mau Tidak Mau Covid-19 Menjadi Daya Dorong Bagi Kita


Dari pengakuan KTU Fakultas Pertanian, Om Ismail Langga, serta bapak-bapak pengelola kebun, selain RA Al Fatih juga pernah ada rombongan murid SMP berkunjung ke Kebun Percontohan Uniflor. Artinya, Kebun Percontohan Uniflor juga terbuka bagi lembaga pendidikan lain di bawah tingkatan perguruan tinggi. Dan bagi yang hendak berkunjung ke sana dapat mencari informasi terlebih dahulu di Fakultas Pertanian Uniflor untuk menyusun/menentukan jadwal. Belajar langsung di alam memang baik, menjadi imbang dengan belajar melalui text-book. Dan saya sangat menyukai kegiatan-kegiatan seperti ini.



Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak