Mau Tidak Mau Covid-19 Menjadi Daya Dorong Bagi Kita

 


Mau Tidak Mau Covid-19 Menjadi Daya Dorong Bagi Kita. Dulu kita (kalau kalian tidak, ya sudah saya saja) pernah berkhayal tentang kehidupan masa depan layaknya di filem-filem sci-fi? Anak-anak belajar menggunakan komputer dan/atau gadget, kelas-kelas konvensional tidak menjadi satu-satunya kelas tempat proses belajar-mengajar terjadi karena sudah tersedia kelas online, mobil melayang sekian inchi di atas tanah, perjalanan antar pulau tidak perlu memakan waktu lama karena adanya transportasi super cepat baik pesawat maupun kapal laut. Lalu semua khayalan itu pun terwujud. Khayalan semakin tinggi. Semakin tidak masuk akal. Tapi, lagi-lagi khayalan itu kemudian terwujud. Meskipun bukan saya yang semata-mata mewujudkannya. Haha. Saya, kalian, mereka, semua orang, sama-sama mewujudkannya.


Baca Juga: Inovasi Canggih dan Keren Cerita dari Serambil Uniflor


Tapi, biar bagaimanapun kita tidak pernah berkhayal apalagi berpikir bahwa akan ada perubahan yang terjadi dalam kehidupan terfana ini akibat dari suatu penyakit. Padahal, dalam sendi-sendi kehidupan, sesuatu yang bertolak belakang dari yang diharapkan, seringkali menjadi motivasi dan/atau daya dorong untuk kita melakukan sesuatu yang berkaitan dengan perubahan. Contohnya, terlalu banyak mengkonsumsi kabrohidrat tanpa diimbangi dengan olah raga teratur dapat memicu diabetes. Mengatasinya, pasti dilakukan serangkaian cara seperti mengurangi asupan karbohidrat, berolahraga, hingga meminum obat. Supaya apa? Ya supaya sembuh dan tubuh bisa dikatakan kembali sehat. Contoh lainnya, kita dimarahi seseorang karena menggosipkannya. Mengatasinya, selain mengakui kesalahan dan meminta maaf, ya harus berani berubah, dengan tidak lagi menggosipkan siapapun.


Melihat judul, mau tidak mau Covid-19 menjadi daya dorong bagi kita. Daya dorong? Iya, pandemi yang mencekam sejak akhir 2019 dan sepanjang tahun 2020 ini (semoga tidak tembus ke 2021) telah menjadi daya dorong bagi semua orang untuk melakukan perubahan. Perubahan itu dimulai dengan rajin mencuci tangan dengan sabut minila tiga puluh detik dan/atau memakai hand sanitizer, rajin menyemprot disinfektan, tidak menyentuh area wajah (mata, hidung, mulut) sebelum mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak aman (minimal satu meter). Masih ada tambahan, langsung mandi dan mengganti pakaian setiap pulang ke rumah terutama jika terlalu lama di luar rumah dan berkomunikasi dengan lebih banyak orang. Protokol kesehatan seperti itu mau tak mau dilakukan oleh semua orang tidak kenal batasan usia.


Tapi saya tidak fokus pada perubahan pola hidup yang mengedepankan protokol kesehatan itu. Saya fokus pada orang-orang yang berusia tua, yang terpaksa harus beradaptasi dengan dunia digital. Sumpah, melihat perubahan ini, dalam hati saya berkata: terima kasih, Covid-19, semua orang ingin melakukan yang terbaik. Di rumah, tersebutlah Mama Len (asisten kedua Mamatua) dan kedua anaknya yaitu Meli dan Yoan. Meli, gadis remaja, sudah terbiasa dengan gadget dan ketika harus belajar melalui aplikasi WhatsApp, bukan masalah. Tapi bagaimana dengan Yoan yang masih SD itu? Mau tak mau, Mama Len harus belajar menggunakan WhatsApp. Covid-19 menjadi daya dorong. Haha. Memang sih, tidak 100% Yoan belajar menggunakan WhatsApp (melalui WAG bersama guru) karena dalam seminggu beberapa kali si guru bakal datang untuk bertemu sekitar lima sampai tujuh murid untuk belajar bersama.


Pandemi ini menjadi daya dorong bagi kami serumah untuk kembali mengingat pelajaran masa SD. Yang murid SD memang cuma Yoan seorang, tapi tugasnya bisa berpuluh-puluh nomor dan dia mengalami kejenuhan. Hahaha. Sumpah, menulis ini saya ngakak sendiri. Bagaimana tidak ngakak? Mama Len membaca dengan keras pertanyaannya, sementara saya, Thika, dan Melly berusaha menjawabnya. Duh, Melly sih mending, belum terlalu lama meninggalkan bangku SD, tapi Thika ... apalagi saya ... duh. Pusing.


Balik lagi pada fokus saya terhadap orang-orang yang berusia tua, yang terpaksa harus beradaptasi dengan dunia digital. Bukan hanya orangtua, seperti Mama Len, karena pendidik pun harus mengalaminya; melakukan perubahan itu. Misalnya, ada pendidik yang selama ini tidak berurusan dengan e-mail, kini harus belajar tentang e-mail terutama melampirkan dokumen. Di Universitas Flores (Uniflor) ragam webinar diikuti oleh dosen maupun mahasiswa. Kita butuh seminar, apalagi yang tingkat nasional, kita butuh kuliah tamu, kita butuh ini. Makanya webinar merupakan salah satu solusi terbaik. Seperti baru-baru ini di Uniflor, diselenggarakan kuliah tamu dengan tiga pemateri. Satu pemateri menyampaikan materinya melalui video online, dua pemateri secara offline. Apakah yang semacam ini pernah terpikirkan sebelumnya? Tentu tidak. Hehe. Inilah salah satu hasil daya dorong Covid-19.


Baca Juga: Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto


Bagaimana dengan kalian, kawan? Saya yakin sudah puluhan bahkan ratusan webinar yang kalian ikuti. Karena mau tak mau memang harus seperti itu caya mainnya. Pilih aman tapi tidak tertinggal. Pilih sehat, tapi tidak ketinggalan. Itulah perubahan yang saat ini kita lakoni. Dan, ya, betul sekali, mau tak mau Covid-19 menjadi daya dorong bagi kita (semua).



Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak