Food Vlogger, Food Critic, What's The Difference?

 


Meskipun dirilis 2014, saya baru menonton film Chef pada Jum'at, 6 november 2015. Detail sekali kah ingatan saya? Tidak. Itu karena adanya arsip postingan tentang T-Fruck. Cita-cita ketinggian saya. Anyhoo, Chef adalah film Amerika Serikat bergenre drama komedi yang ditulis skenarionya, diproduseri, dan disutradarai oleh Jon Favreau (Wikipedia). Jon Favreau berperan sebagai chef profesional (Carl Casper) yang tidak terima ketika seorang food critic (kritikus makanan) mengkritik habis-habisan makanan yang dia masak di restoran tempat dia bekerja. Dia kemudian menantang si kritikus makanan, Ramsey Michel (Oliver Platt), untuk mencoba masakan terbarunya, tapi ditolak oleh pemilik restoran, Riva (Dustin Hoffman). 

Ramai, Tiktok Shop Versus Pasar Konvensional.

Ramsey memang menguliti Carl sampai ke akar-akarnya. Ulasan Ramsey di media sosial Twitter, bikin gaduh. Bukan hanya kredibilitas Carl yang digunjing tapi juga, tentu, restoran itu sendiri. Berantemnya Carl sama Riva pun beredar di media sosial, sampai akhirnya Carl (setelah berhenti jadi chef) sulit mencari kerja. Singkat cerita Carl kembali bersinar setelah membuka/membangun food truck milik sendiri. Dia bertemu Ramsey yang datang meminta maaf dan pada akhirnya membuka restoran. Sisi positif dari Chef adalah mengajarkan penontonnya untuk mampu mengendalikan diri terhadap hasrat memasak dan bagaimana kita bisa menerima kritikan dari sudut pandang positif.

Ramsey juga mengingatkan kita pada Ratatouille. Film garapan Walt Disney dan Pixar dengan pemeran utama seekor tikus bernama Remy. Oleh food critic paling disegani di Prancis, Anton Ego, masakan Remy diakui dan sangat memuaskan. Restoran peninggalan Auguste Gusteau itu pun kembali ramai setelah Anton mengulasnya di koran.

Meskipun terlihat sama, antara food critic dan food vlogger itu ada bedanya. Seperti yang baru-baru ini ramai, tentang ulasan jujur Aa Juju di warung Bang Madun dengan karakter Nyak Kopsah. Ulasan jujur ini membikin Bang Madun mengamuk sampai menangis. Justru itu yang membikin seorang food critic, Codeblu, turut mengulas warung tersebut. Seperti Ramsey mengkritik masakan Carl, sungguh total alias maksimal jujur. Mulai dari rasa makanannya sampai pengemasan yang berbeda dengan yang dialami oleh Aa Juju. Ya, Codeblu adalah nama besar yang saya tahu setelah Pak Bondan Winarno dan Nex Carlos! Maafkan saya jika tidak mengetahui food critic lain yang kalian ketahui.

Lantas, apa bedanya food vlogger dan food critic? Bukankah keduanya sama-sama mengulas makanan?

Menjadi seorang food vlogger sangat menyenangkan. Beberapa video saya di Youtube dengan taggar #MariMakan mengulas tentang makanan. Seorang food vlogger tidak perlu punya skill tinggi tentang makanan. Cukup tahu: enak, dan tidak enak. Datang, nikmati, beri penilaian, tanpa perlu membandingkan dengan makanan yang betul-betul benar-benar 😁 Tujuannya banyak. Bisa untuk konten, bantu promosi sebuah tempat makan, atau untuk sekadar menikmati makanan favorit. Bisa jadi yang diulas melebar sampai ke suasana tempat makan tersebut (warung, kafe, restoran).

Menjadi seorang food critic itu berat bebannya. Seorang food critic harus punya skill di bidang makanan. Skill ini bisa berkaitan dengan cara memasak hingga ketajaman lidah soal rasa. Bagaimana seorang food critic bisa mengkritik suatu menu makanan tidak enak? Karena dia sudah merasakan yang paling the best dari menu makanan yang sama di tempat lain. Dia bahkan bisa tahu proses masak yang salah sehingga makanan tersebut terasa tidak menyenangkan di lidah. Jam terbang food critic sangat tinggi sehingga dia bisa didaulat menjadi seorang food critic.

Food vlogger bisa bilang, "Ini enak sekali! Kurang garam sedikiiiit saja." Tetapi seorang food critic akan bilang, "Ini tidak enak. Ayamnya dimasak terlalu lama. Saosnya tidak begini karena butuh waktu yang lama untuk menyiapkan saos khusus bla bla bla."

Food critic berbekal skill mengulas yang tinggi. Tidak asal bicara. Food critic pun harus punya skill menulis yang baik terhadap makanan yang diulasnya. Pengetahuan/wawasan harus luas. Karena apa? Karena kritikannya akan menjadi bahan membangun alias akan menjadi pengetahuan tambahan terhadap pihak yang dikritik. Artinya pihak yang dikritik, jika menerima kritikan, niscaya akan banyak belajar demi kualitas makanan yang jauh lebih baik. 

Meskipun beda antara hinaan dan kritikan hanya setipis kertas, perlu diingat bahwa kritikan selalu membawa perubahan baik.

Pernah coba, Nasi Jamblang Bu Nur.

Sebagai omnivora, bukan lagi food vlogger dan bukan pula food critic, saya mencintai makanan karena untuk bisa makan saya harus bekerja memperoleh uang. Iya kan? Iya dong. Oleh karena itu, saya salut pada para food critic di dunia ini. Mereka berani mengkritik makanan karena memang mereka ahli di bidang itu. Hasil kritikannya pun bukan untuk menjatuhkan orang lain tetapi untuk membangun agar di hari depan makanan tersebut lebih berkualitas. Meskipun kata orang urusan rasa dan selera itu tidak bisa disejajarkan, tapi saya respek terhadap para food critic!

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak