Lomba Celoteh Anak (1)

Bapak… Bapak Polisi!

Celoteh anak? Huaaaa… saya punya banyak Ponakan dan waktu mereka masih kecil, masih anak-anak, masih mau dimandi’in, celotehnya juaraaa semua. Juara bikin jengkel, keki dan malu! Tapi semua itu justru jadi kenangan indah saya bersama mereka. Ihihihi. Kalau diingat lagi, saya cuma bisa ketawa sungsang! Saat semua Ponakan masih kecil, dunia terasa indah karena kita bisa isengin dan ngerjain mereka! Bisa peluk-peluk dan mandi’in mereka—bahkan kadang mereka yang minta (dan sering pada saat yang tidak tepat!). Saat mereka sudah besar… jangankan mandi’in (ini sih Encimnya yang aneh hehehe), minta peluk saja mereka malu! Mukanya sudah kayak warna darah. Beugh. Mentang-mentang sudah besar!

Saya punya 13 Ponakan. Benock, Ponakan saya, anak pertama dari kakak nomor 4. Sekarang Benock sudah duduk di bangku kelas 2 SMP tapiiiii cerita ini terjadi saat dia masih kecil. Umurnya kira-kira 4 atau 5 tahun.

Waktu itu kalau datang main-main ke rumah Opa-Oma (rumah kami), kakak dan kakak ipar ngobrol sama orangtua (waktu itu Bapak masih hidup), Benock main sama Indra (Ponakan yang tinggal bersama kami), sedangkan saya jadi penonton. Maklum, masih imut, belum punya pacar jadi malam mingguan di rumah saja. Hahaha. Dalam dunia bocah, perang dan perdamaian bisa terjadi kapan saja mereka mau. Menit ini pelukan, menit berikutnya saling tinju. Hanya orangtua bodoh yang suka ikut campur urusan anak-anak. Namanya juga anak-anak. Nah, entah mengapa tiba-tiba terjadi perkelahian seru antara Benock dan Indra. Biarpun Indra lebih tua, tapi urusan bodi Benock juara.

-BUGH!-

“RASAIN LOE!”

Itu suara Indra. Betul-betul korban televisi… sudah bisa ngomong ‘rasain loe!’.
Benock tidak mau kalah. Dibalasnya dengan memukul Indra dan bilang…

“RASA STRAWBERRY LU!!!!”

Eh? Maaf ya, bukannya membiarkan Kekerasan Dalam Bermain, semua orang dewasa yang ada di sekitar mereka tak berdaya menolong. Semua mati lemas gara-gara ketawa. Hehe.

Lama banget baru Benock punya adik—kelas 1 SMP baru Benock punya adik perempuan bernama Indi—makanya tidak heran kalau dulu dia merasa ‘tunggal’ dan harus dimanjakan. Mana mau Benock diperintah-perintah sama orangtuanya? Bila disuruh,

“Benock tolong ambil Bapak pung sepatu,”

Jawabnya, “HA? TIDAK DENGAR!!!!”

Dodol bener deh. Hehe.

Beda Benock, beda pula Panji. Panji ini anak bungsu dari kakak pertama. Meski mereka sama-sama ngefans sama Pasha Ungu tapi Benock masih cukup waras untuk tidak seperti Panji entengnya bilang, “saya ini kan anaknya Pasha Ungu!”

Huek… puhlease deh, Ponakan! Hubungan dari mana? Hihihih.

Sementara itu, Indra adalah putra pertama dari kakak ke-3. Sejak TK Indra sudah tinggal bersama kami. Indra tidak seperti Ponakan saya lainnya yang memanggil orangtua mereka dengan ‘Bapak & Mama’. Indra memanggil kakak laki-laki saya dengan sebutan : AYAH. Jadi Indra tidak mengenal Bapak.

Suatu hari TK tempat Indra bersekolah menjadi tamu di RSPD (Radio Siaran Pemerintah Daerah) Ende. Dulu, dalam seminggu, ada saja TK yang siaran di sana. Mereka seperti pindah kelas saja karena di studio Guru tetap mengajar seperti biasa dan meminta murid-murid imut itu melakukan perintah mereka seperti bernyanyi, baca puisi dan… menangis. Hehehe. Yang menangis sih karena asli tidak berbakat jadi artis.

Setelah sesi menyanyi, baca puisi dan menangis a la anak TK (di rumah, kami mendengarkan radio dengan perasaan riang gembira… Indra di radio! Hehehe), tibalah saatnya saling memperkenalkan diri. Dimulai dari teman-teman Indra…

“Nama saya Mahmud Bin Mahmud. Bapak kerja di kantor!”

Guru menyuruh murid-murid bertepuk tangan dan memanggil murid yang lainnya.

“Saya Fauzi Blablabla… Bapak saya nelayan….!”

Semua teman Indra juga memanggil orangtua mereka dengan : Bapak dan Mama. Indra jadi pusing. Bapak? Bapak siapa? Apa maksudnya? Yang dia tahu, Ayah kerja di Telkom. Titik.

Tibalah saat Indra dipanggil…

“Nama saya PeDe Indriaspratama Pharmantara… Ayah kerja di Telkom…”

“Bag…” maksud Bu Guru sih mau bilang ‘bagus Indra’ gitu. Tapi ternyata ada sambungannya dari Indra…

“BAPAK… BAPAK… BAPAK POLISI!”

What!???? Gurunya cengo.

Bapak dan saya yang lagi pasang kuping di radio sampai terjengkang! Duileeee Indraaaa. Segitunya pengen punya ‘bapak’.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak