Modus Penipuan Daring Semakin Bervariasi

 


Semakin tinggi nilai sumber daya manusia, maka semakin canggih teknologi yang ditemukan atau diciptakan (meskipun kata 'cipta' lebih suka saya gunakan untuk Allah SWT). Bukankah demikian seharusnya? Karena, teknologi ditemukan oleh manusia sebagai hasil dari kebudayaan dan peradaban. Thomas Alva Edison dikenal sebagai penemu bohlam lampu pijar, namun tidak boleh kita lupakan cikal bakalnya oleh Alessandro Volta. Teknologi Nikuba (Niku Banyu: ini air) oleh Aryanto Misel. Jan Koum dan Brian Acton, penemu/pendiri WhatsApp. Saya bisa menulis lebih banyak lagi para penemu, tapi kita cukupkan sampai di situ 😋

Sedang proses Kawasan Hutan Produksi Berbasis Wisata Pendidikan di Desa Mbobhenga.

Sayangnya, di tengah kehidupan manusia saat ini, yang katanya canggih, masih banyak pula manusia yang memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk melakukan penipuan. Khususnya, penipuan daring.

Era 2000-an, seorang wanita datang ke warung internet (warnet) tempat saya bekerja, lalu membeli dua voucher pulsa Simpati Nusantara nominal Rp 100.000. Dia menghilang ke warung telepon (wartel) tepat di sebelah warnet. Kenapa saya tahu dia ke wartel? Karena pada saat saya pergi ke wartel untuk menukar sejumlah uang, si wanita sedang mengantri untuk menelepon di depan salah satu Kamar Bicara Umum (KBU). Tidak lama, dia kembali ke warnet dan membeli 10 voucher pulsa. Bahkan, dia menggosok bagian abu-abu untuk membuka deretan angka voucher

Saya penasaran dan bertanya, "Kak, untuk apa beli voucher sebanyak ini? Mau kasih hadiah kah? Kok bagian abu-abunya digosok?"

Dia menjawab, "Ini, saya tadi dapat SMS menang undian. Dapat dua puluh Juta. Kalau sudah kirim kode voucher ke mereka, nanti mereka kirimkan uangnya. Makanya tadi saya ke sebelah, telepon mereka, kasih tahu kode voucher."

Yess. Itu salah satu modus penipuan zaman dulu. Tidak perlu saya ceritakan bagaimana lunglainya si wanita saat sadar bahwa dia ditipu.

Lucunya, meskipun zaman sudah sedemikian canggih, masih ada pula pengguna internet yang tertipu. Modusnya, penipu mengabarkan sanak keluarga kecelakaan dan calon korban harus mengirim sejumlah uang untuk mempermudah proses di Kepolisian (kasihan Kepolisian, terus-terusan jadi korban kambing hitam para penipu ini). Di mana letak lucunya? Ya lucu! Yang menipu justru tinggal nun jauh di sana, di Sidrap, yang saat digerebek pihak Kepolisian malah sembunyi atau lari tunggang-langgang ke kebun. 😛 Sedangkan korban mereka, bisa jadi masyarakat golongan ekonomi atas, yang sehari-hari berkendara mobil pribadi.

Saat ini, modus penipuan daring jauh lebih bervariasi.

Skema ponzi (modus investasi palsu) yang sangat marak di Kota Ende pada era Covid-19 adalah New Epoch. Luar biasa New Epoch ini. Sampai-sampai ada yang tertipu hingga puluhan Juta Rupiah. Itu baru satu orang. Sedangkan yang terjebak dalam New Epoch ini bisa ratusan ribu orang. Paling enak tentu saja orang-orang yang paling pertama tahu. Paling susah tentu saja orang-orang yang paling terakhir tahu. Semacam bisnis kaki-kaki ... kaki paling bawah baru merintis, eh sudah tertipu. Padahal kerjanya mudah loh, cuma menonton Youtube! Haha 😄

Ada lagi modus lain. Si penipu menghubungi calon korban menggunakan aplikasi antara lain WhatsApp. Menggunakan bahasa Inggris yang fasih dan mencomot nama perusahaan marketing ternama, mereka menawarkan calon korban menjadi freelancer. Kerjanya gampang. Tinggal memberi review tentang suatu hotel, tempat wisata, dan lain sebagainya yang mereka tawarkan. Untuk membayar tugas pertama, mereka akan meminta calon korban menggunakan Telegram. Di Telegram ini, calon korban dimasukkan ke dalam grup. Semua berjalan normal, sampai kemudian ada ketentuan melakukan deposit atau investasi sejumlah uang. Di sini, jika tidak segera cabut, calon korban akan menjadi korban penipuan daring sesungguhnya.

Dan saya menemukan modus terakhir ini. Tertawa sendiri sambil membalas pesan si penipu dengan sopan. Dan mengucapkan terima kasih. Screen shoot-nya tidak saya tampilkan. Karena lebih baik kalian cukup tahu saja bahwa yang macam begini bisa terjadi pada siapa saja.

Yang muda yang memilih, Kuasai Literasi Digital.

Penipu akan bekerja dengan berbagai cara, dengan berbagai modus, dengan segudang janji-janji manis. Jangan sampai kita tertipu.

Ingat, bekerja keraslah untuk mendapatkan uang. Karena uang akan datang pada orang-orang yang bekerja dengan kesungguhan hati.

Semoga postingan ini bermanfaat untuk kita semua. Biasanya kita merasa cerdas dan sudah sangat canggih, merasa tidak mungkin dengan mudahnya tertipu. Tapi pada kondisi tertentu, bisa saja pikiran kita terbagi, atau atas kondisi psikis tertentu, kita mempercayai para penipu. Jadilah ... kita tertipu. Jangan sampai, ya! Ingat, kita sudah bekerja sangat keras untuk mengumpulkan uang. Yang normal-normal saja lah.


Cheers.

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak