#KakiKereta: Desa Manulondo

Gunung Meja tertutup awan ...


Masih ingat Desa Manulondo kan? Kalau lupa, kisah soal Sarasehan yang dilakukan oleh Komunitas SocMed Ende di Desa Manulondo bisa dibaca di sini. Saya suka sama mindset Kepala Desa Manulondo, Bapak Aris Bagi, bahwa meskipun mereka berada dalam lingkup desa tapi harus mampu berpikir internasional. Salah satu perbuatan dari Bapak Aris yang saya acungi jempol adalah kerjasama beliau dengan Komunitas SocMed Ende menggelar kegiatan sarasehan tentang pentingnya beretika dalam menggunakan media sosial.

***

Kemarin pagi mendadak saya dihubungi Evran, salah seorang siswa SMAK Syuradikara yang saya sebut sebagai Young Tallented Videographer, yang bertanya, "Hari ini kita ke mana, Encim?" Bagi saya, pertanyaan itu adalah ajakan. Dan pada akhirnya kami pun berencana untuk pergi ke Desa Manulondo. Seperti biasa, KakiKereta ini dilakoni oleh orang-orang dari program Backpacker dan teman-teman Zigizeo yang didalangi oleh Martozzo. Sayangnya, kemarin itu Mamas Yoyok dan Iwan tidak bisa ikutan, sedangkan pihak Zigizeo begitu banyak partisipan! Hahaha. Rata-rata mereka masih duduk di bangku kelas tiga SMAK Syuradikara.

Benar kata orang, kalau sudah niat, rintangan apapun tidak dapat menghalangi. Rencananya kami berangkat pukul 13.00 tapi ternyata hujan mengguyur Kota Ende dengan dahsyatnya. Saya pikir, mungkin perjalanan hari ini bakal batal. Tapi saya salah ... setelah hujan agak reda, mendadak satu per satu anak-anak Zigizeo muncul di rumah. Pukul 14.30, Bro Kiki Albar, salah seorang sahabat kami yang dan sering jalan bareng, yang paling pertama muncul, "Ncim, si Tozzo suruh saya ke sini ... katanya kita mau ke mana gitu?"

Wah, kalau begitu mari kita jalan! 

Sepanjang jalan menuju Desa Manulondo kami dihadang gerimis dan sesekali hujan. Tapi kami tetap tancap gas. Kebetulan saya diboncengi sama Bro Kiki Albar, jadi rada aman. Kalau saya pakai Oim Hitup, bisa agak bahaya soalnya si ban mulai berulah. Saya sendiri sudah menghubungi Om Ihsan Dato tentang kedatangan kami ini. Awalnya, rencana kedatangan kami ke Desa Manulondo adalah untuk menyaksikan secara langsung proses pencelupan yang merupakan salah satu dari rangkaian pembuatan tenun ikat. Sayangnya, kalau Hari Minggu para ibu-ibu penenun libur ... walhasil kami pun berencana untuk pergi ke spot yang cukup tinggi di Desa Manulondo dimana bisa menyaksikan lanskap Kota Ende dari ketinggian. Dengan senang hati Om Ihsan mengantar kami ke sana.

Kamera ready, everything is okay, yuk kita ngesyut!

Dari atas bak air Desa Manulondo (orang-orang biasa menyebutnya bak air Aekipa), kami dapat melihat lanskap Kota Ende dengan leluasa! Sayangnya, kemarin sore cuaca sedang sangat tidak bersahabat. Kota Ende tertutup awan dan/atau kabut ... kesan mistisnya luar biasa 'dapet'. Qiqiqiqi. Kami tetap action, merekam gambar, ngomong ini-itu a la host (ngakak), dan meminta Om Ihsan untuk menjelaskan beberapa hal penting tentang lokasi bak air Desa Manulondo ini, termasuk apakah pemerintah setempat sudah memikirkan untuk menjadikan tempat ini sepat lokasi wisata di Desa Manulondo?

Meskipun sama seperti Kolibari, tempat tertinggi kita bisa melihat lanskap Kota Ende, tapi jelas pemandangan ini dari sisi yang berbeda. Akan berbeda pula jika dilihat dari puncak Wolotopo.

Dari lokasi tertinggi tersebut, kami pun meminta Om Ihsan untuk mengantar ke lokasi berikutnya yaitu tempat Bung Karno biasa bersemedi (di masa pengasingan dulu). Lokasinya di dekat jalan raya, jarak dari jalan ke sungainya pun dekat, hanya sayang banyak sampah (musim hujan) dan tidak terawat. Tempat Bung Karno biasa bersemedi itu adalah sebuah batu ceper besar di tengah sungai kecil. Om Ihsan banyak bercerita tentang bagaimana sampai mereka menemukan bahwa tempat itu merupakan tempat yang bersejarah selain Situs Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno, dan Gedung Imaculata. Sayangnya saya pakai sepatu. Kalau pakai sandal, saya sudah dudul pula di atas batu ceper itu dalam posisi semedi hehehe.

Sekitar tiga jam kami menghabiskan waktu di Desa Manulondo dan akhirnya harus mengakhiri KakiKereta-nya. Hihi. Sepertinya virus untuk berKakiKereta ini semakin luas menyebar dan minggu depan kami berencana untuk pergi ke Kecamatan Nangaroro yang masih merupakan bagian dari Kabupaten Nagekeo. Ada apakah di sana yang bisa kami eksplor? Yang jelas, kami selalu berbagi videonya dengan teman-teman semua hehehe.

 
Mari kita ber-KakiKereta!




Cheers!

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak